Rabu, 30 November 2011

Latar Belakang Kitab Pengkhotbah

KITAB PENGKHOTBAH

Pendahuluan
            Kitab pengkhotbah adalah kitab yang menyelidiki kehidupan dengan cara yang berbeda dari kitab-kitab dalam Perjanjian Lama. Bullock menyatakan, aforisme hikmat, bagi pengkhotbah merupakan permata-permata yang telah dia gali dari dalam bumi. [1] Penulis kitab ini menyarankan untuk tidak menggantungkan kehidupan kepada segala macam harta yang didapatkan dalam dunia ini, tetapi tetap mengingat Tuhan sebagai hakim yang  Adil. Menikmati hidup sebagai karunia Tuhan merupakan pesan yang disampaikan oleh penulis kitab Pengkhotbah. Balchin menyatakan, kadang-kadang penulis seakan-akan pasrah dengan kehidupan; pada kesempatan lain ia seakan-akan menasihatkan untuk menikmati hidup selagi masih dilakukan.[2]

Judul
            Judul dalam bahasa Inggris, Ecclesiastes (Ind. Pengkhotbah). Judul ini merupakan sebutan yang diberikan Septuaginta. Judul dalam bahasa Ibrani adalah Qoheleth (Ind. Kohelet). Qoheleth merujuk pada 2 hal, yaitu : 1). Merujuk pada hikmat, 2). Merujuk pada suatu jabatan, seperti sofereth (jabatan panitera), atau pochereth (pengikat). Dalam berbagai versi bahasa Inggris modern menerjemahkan kata Ibrani menjadi “Pengkhotbah”.[3]

Penulis
            Secara umum banyak yang menerima bahwa penulis kitab Pengkhotbah ditulis oleh Salomo. Meskipun ada yang menyatakan bahwa sebenarnya penulis kitab ini adalah orang lain yang kemudian mengatasnamakan Salomo. Hal ini tidak berarti penulis kitab ini menipu, karena pada zaman itu tindakan tersebut merupakan kebijaksanaan sastra yang terkenal. Pembaca asli pasti mengetahu apakah penulisnya Salomo atau orang lain yang mengatasnamakannya.[4]

Tahun Penulisan
            Antara 940 dan 935 SM.

Ayat Kunci
            12:13 “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintahNya, karena ini adalah kewajiban setiap orang”

Karakteristik Kitab Pengkhotbah[5]
  1. Kitab yang menganggap kefanaan hidup manusia. Kefanaan yang sanggup merenggut kebahagiaan manusia.
  2. Menyatakan kedaulatan dan pemeliharaan Allah. Hidup dan nasib manusia ditentukan sebelumnya oleh Allah yang mengatur segala peristiwa di bumi.
  3. Menyatakan bahwa prinsip yang dapat memberikan semangat dalam hidup adalah dengan mengambil jalan yang terbaik dalam tindakan dan tingkah laku.

Struktur Sastra Kitab Pengkhotbah[6]
  1. 1:1 – 11           : Prolog, Segala sesuatu sia-sia.
  2. 1:12 – 2:26      : Bagian 1,
  3. 3:1 – 5:20        : Bagian 2
  4. 6:1 – 8:15        : Bagian 3
  5. 8:16 – 12:7      : Bagian 4
  6. 12:8 – 12         : Epilog

Tujuan
            Untuk mengajar atau mendidik agar mnikmati kehidupan sebagai karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Dengan tetap mengingat bahwa manusia tetap memiliki pertanggungan jawab kepada Tuhan.


[1] C. Hassel Bullock, Kitab-Kitab Puisi dalam Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 2003), 244.
[2] John Balchin dkk, Intisari Alkitab Perjanjian Lama, (Jakarta :Persekutuan pembaca Alkitab, 1997), 149.
[3] Bullock, 244-255.
[4] Tafsiran Alkitab Masa Kini 2, 336. Bandingkan dengan Bullock, 251-257.
[5] Bullock, 248-50.
[6] Ibid, 246.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar